Listrik telah menjadi energi yang paling dibutuhkan dewasa ini oleh umat manusia di bumi ini. Karena dengan energi listrik segala sesuatu
yang sulit dapat dipermudah dan dipercepat. Hal inilah yang menyebabkan pentingnya energi listrik tersebut selalu bersinergi dengan kehidupan
manusia. Apalagi sekarang ini zaman globalisasi, sehingga jangkauan kita bisa menelusuri pelosok-pelosok di atas bumi ini dengan menggunakan
alat-alat yang memanfaatkan energi listrik.
Dengan terciptanya alat-alat canggih yang selalu menggunakan energi listrik seperti komputer, laptop, televisi, tape, radio, alat-alat rumah
tangga, yang semuanya menyedot energi listrik berbeda-beda. Hal inilah yang menyebabkan makin berkurangnya pasokan listrik untuk Bali.
Apalagi Bali cuma mengandalkan pasokan listrik dari Jawa, yang menggunakan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD), di samping pasokan dari
PLTD Pesanggaran yang kapasitasnya tetap, sehingga kalau pelanggan PLN bertambah otomatis daya listriknya akan berkurang.
Untuk mengatasi krisis listrik tersebut, kiranya tidak ada salahnya PLN wilayah Bali mencoba membangun pusat-pusat pembangkit listrik dengan
memanfaatkan potensi alam yang ada, seperti misalnya memanfaatkan angin, sinar matahari atau tenaga air. Untuk pemanfaatan ketiga sumber daya
alam tersebut, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian.
Pertama, pemanfaatan tenaga angin/bayu, yang nantinya disebut PLTB (pembangkit listrik tenaga bayu). Diperlukan survei oleh tim Litbang PLN,
mengingat Pulau Bali banyak memiliki dataran tinggi/perbukitan yang bisa dijadikan pusat pembangunan kincir angin. Hal ini perlu juga penelitian
mengenai kecepatan angin yang akan dijadikan PLTB, karena kecepatan angin yang baik dipergunakan adalah angin kelas 3 s.d. 8, atau angin yang
memiliki kecepatan 1,6 - 3,3 m/dt sampai dengan 13,9 - 17,1 m/dt. Kiranya Bali perlu mencontoh PLTB yang sudah ada di Pulau Nusa Penida
(7 unit PLTB, 3 unit berkapasitas 85 kW dan 4 unit berkapasitas 80 kW), dengan adanya PLTB tersebut maka Nusa Penida selalu terang benderang
selama 24 jam, tanpa takut akan ada giliran pemadaman. Kalau PLN mau bangkit, kiranya banyak tempat di Bali yang bisa dibanguni PLTB.
Kedua, pemanfaatan tenaga sinar matahari/surya, yang nantinya disebut PLTS (pembangkit listrik tenaga surya), merupakan hal yang tidak sulit,
jika PLN mau berkomitmen untuk menambah pasokan daya listrik Bali. Karena banyak tempat di Bali yang bisa dibangun PLTS, terutama di wilayah utara,
yang keadaan cuacanya bagus. Tidak ada salahnya kita melihat PLTS di Nusa Penida yang sudah berhasil mengalirkan listrik dengan kapasitas 35 kW
(di sana berhasil, kenapa tidak dicoba di Bali?).
Ketiga, pemanfaatan tenaga air, yang nantinya disebut PLTA. Kiranya Bali masih banyak memiliki sungai-sungai yang aliran airnya konstan,
maka tidak ada salahnya pihak PLN melakukan survei dan kemudian membangun waduk/bendungan yang nantinya dapat dipergunakan untuk menggerakkan
kincir air yang pada akhirnya menghasilkan energi listrik.
Dengan memanfaatkan potensi alam tersebut (angin, surya dan air) maka ke depannya Bali akan menjadi "Pulau Taman Energi Terbarukan"
(Renewable Energy Park), yang nantinya membuat Bali makin maju di bidang perlistrikan, sehingga Bali akan selalu terang benderang selama 24 jam.
Hal ini tentu akan mengikis kekhawatiran akan adanya giliran pemadaman dari pihak PLN.
Masyarakat Bali tentu mengharapkan adanya solusi semacam ini, mengingat Bali sebagai pusat pariwisata dunia, maka kebutuhan listrik merupakan
hal penting yang tidak bisa diganggu gugat.
(BP-27102009)